Pengunjung Hari Ini


widgeo.net

KECAPI SULING

ANGGARAN DASAR FRONT PENYELAMAT ISLAM

Bismillahirrahmanirrahiim

Sholawat dan salam tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam, semoga pula terlimpah kepada para sahabat dan tabi’i-tabi’it tabi’in biihsani ilayaumiddin.

BAB I

MAKSUD DAN TUJUAN PEMBENTUKAN

FRONT PENYELAMAT ISLAM dibentuk karena melihat fenomena Gerakan Organisasi Massa Islam yang begitu lambat untuk merespon atas TRAGEDI PEMBANTAIAN UMAT ISLAM, baik yang berada diluar negeri apalagi yang didalam negeri. Fenomena ini membuat kami tergerak untuk melakukan sesuatu yang lebih terfokus, terinci dan menyeluruh agar permasalahan umat segera bisa teratasi.

Pasal 1

Maksud didirikannya atau dideklarasikannya organsasi ini adalah guna menyatukan sudut pandang yang berbeda dan bersinergi antara kekuatan PEMIKIR, PEMODAL dan PENYANDANG MASALAH. Dengan arti kata, meleburnya Tokoh-Tokoh Pemikir (ULIL ALBAB), ULIL AMRI dan ULIL ABSHOR.

Pasal 2

Tujuannya adalah untuk memberdayakan umat dalam segala hal, seperti:

1. Cerdas

2. Sehat

3. Mampu

Keterangan:

Cerdas, karena pendidikannya terjamin.

Sehat, karena kesehatannya terjamin.

Mampu, karena ekonominya terjamin.

BAB II

TEMPAT DAN KEDUDUKAN

FRONT PENYELAMAT ISLAM bertempat di Kota Depok dan berkedudukan di Kota Depok.

Jika diperlukan bisa saja berpindah tempat dan kedudukan.

BAB III

BENTUK DAN SIFAT ORGANISASI

1. FRONT PENYELAMAT ISLAM berbentuk Organisasi Kemasyarakatan

2. FRONT PENYELAMAT ISLAM bersifat terbuka namun selektif dengan bersandarkan kepada SYARI’AT SLAM (Alqur’an dan Hadis).

BAB IV

LAMBANG ORGANISASI

FRONT PENYELAMAT ISLAM berlambangkan:

1. Pedang dengan tulisan kalimat Tauhid berlatarbelakang warna hitam.

2. Kepulauan Indonesia (Nusantara).

3. Bendera Hitam bertuliskan kalimat Tauhid.

BAB V

MAKNA LAMBANG ORGANISASI

1. Pedang bermakna melakukan Jihad Fisabilillah.

2. Kepulauan Indonesia bermakna Tempat dan Kedudukan Organsasi

3. Bendera Hitam bermakna Bendera Panji Islam yang berlaku Universal.

BAB VI

SYARAT-SYARAT UNTUK MENJADI PENGURUS/ANGGOTA

Syarat-syarat untuk menjadi Pengurus/Anggota diatur sebagai berikut:

1. Muslim dan Muslimah.

2. Taat kepada Allah dan Rosulnya.

3. Memiliki Ghirah terhadap Islam.

4. Mengutamakan Alqur’an dan Assunnah ketimbang Ro’yu (Pikiran).

5. Mengedepankan Prinsip Tabayun dan kehati-hatian dalam setiap perilaku.

6. Siap menerima Perintah dan Sanksi jika melanggar aturan.

BAB VII

HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 1

Hak dan Kewajiban Pengurus

Hak dan Kewajiban Pengurus lebih lanjut diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 2

Hak dan Kewajiban Anggota

Hak dan Kewajiban Anggota lebih lanjut diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB VIII

IKHWAL KERAHASIAAN

FRONT PENYELAMAT ISLAM memberlakukan hal-hal yang dianggap RAHASIA, karena:

1. Memang harus dirahasiakan karena untuk kepentingan Organisasi

2. Atas Perintah Komandan atau Panglima atau PANGLIMA TERTINGGI

BAB IX

SANKSI TERHADAP PELANGGARAN

Setiap Pengurus maupun Anggota dapat dikenakan SANKSI, jika:

1. Melanggar SUMPAH atau JANJI

2. Melakukan hal-hal yang melanggar Syari’at Islam

BAB X

PENUTUP

Segala hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Organisasi FRONT PENYELAMAT ISLAM.

Demikian isi dan bunyi dari ANGGARAN DASAR ORGANISASI FRONT PENYELAMAT ISLAM.

Berlaku sejak ditetapkan.

Kota Depok, 22 Syawal 1436 Hijriyah atau 07 Agustus 2015 Masehi

FRONT PENYELAMAT ISLAM

UNTUK IZUL ISLAM WALMUSLIMIN

Senin, 18 Januari 2016

Siapakah yang Berhak Mendapat Harta Waris

(8305 Views) November 19, 2011 8:21 am | Published by | Komentar Dinonaktifkan pada Siapakah yang Berhak Mendapat Harta Waris (ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

Dalam sistem waris Islam, tak semua orang bisa mendapatkan harta waris. Demikianlah ketentuan Allah l yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya yang luas, Dia l memilih orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris tersebut.
Tak hanya dari kalangan lelaki yang dipilih-Nya, dari kalangan perempuan sekalipun ada juga yang dipilih-Nya. Dari kalangan lelaki berjumlah 15 orang, sedangkan dari kalangan perempuan berjumlah 11 orang.
Dalam istilah ilmu al-faraidh, seorang lelaki yang berhak mendapatkan harta waris disebut warits (وَارِثٌ), dan jika berjumlah banyak disebut waritsuun (وَارِثُون) atau waratsah (وَرَثَةٌ). Sedangkan seorang perempuan yang berhak mendapatkan harta waris disebut waritsah (وَارِثَةٌ), dan jika berjumlah banyak disebut waritsaat (وَارِثَاتٌ). Semua itu dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan ahli waris atau pewaris.
Orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris dari kalangan laki-laki adalah:
1. Anak lelaki
2. Cucu lelaki dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
3. Bapak
4. Kakek (dari pihak bapak) dan ke atasnya dari jalur lelaki
5. Suami
6. Saudara lelaki sekandung
7. Saudara lelaki sebapak
8. Saudara lelaki seibu
9. Anak lelaki dari saudara lelaki sekandung (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
10. Anak lelaki dari saudara lelaki sebapak (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
11. Paman (saudara bapak sekandung)
12. Paman (saudara bapak sebapak)
13. Anak lelaki dari paman/saudara bapak sekandung (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
14. Anak lelaki dari paman/saudara bapak sebapak (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
15. Seorang lelaki yang membebaskan budak (mu’tiq), dan ashabah-nya dari jenis ‘ashabah bin-nafsi.
Jika diandaikan semuanya terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris dari mereka adalah anak lelaki, bapak, dan suami. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 65-67 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 62-63)
Sedangkan orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris dari kalangan perempuan adalah:
1. Ibu
2. Anak perempuan
3. Cucu perempuan dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunan perempuan yang melalui jalur lelaki
4. Nenek dari pihak ibu, dan ke atasnya dari jenis perempuan
5. Nenek dari pihak bapak
6. Ibunya kakek dari pihak bapak (buyut perempuan)
7. Saudara perempuan sekandung
8. Saudara perempuan sebapak
9. Saudara perempuan seibu
10. Istri, walaupun lebih dari satu
11. Seorang perempuan yang membebaskan budak (mu’tiqah).
Jika diandaikan semuanya terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris dari mereka adalah ibu, anak perempuan, cucu perempuan dari anak lelaki, istri, dan saudara perempuan sekandung. Adapun jika diandaikan semua ahli waris tersebut baik dari kalangan lelaki maupun perempuan terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris adalah bapak, anak lelaki, suami atau istri, ibu, dan anak perempuan. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 68 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 62-63)
Bagaimanakah cara perwarisan dari masing-masing ahli waris tersebut? Cara perwarisannya terbagi menjadi empat macam:
Pertama: Mereka yang mewarisi dengan cara fardh saja. Jumlahnya ada tujuh orang;
1) Ibu
2) Anak lelaki ibu mayit (saudara  lelaki seibu)
3) Anak perempuan ibu (saudara perempuan seibu)
4) Suami
5) Istri
6) Nenek dari pihak ibu
7) Nenek dari pihak bapak.
Kedua: Mereka yang mewarisi dengan cara ta’shib saja. Jumlahnya ada duabelas orang;
1) Anak lelaki
2) Cucu lelaki dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
3) Saudara lelaki sekandung
4) Saudara lelaki sebapak
5) Anak lelaki dari saudara lelaki sekandung (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
6) Anak lelaki dari saudara lelaki sebapak (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
7) Paman (saudara bapak sekandung) dan ke atasnya
8 ) Paman (saudara bapak sebapak) dan ke atasnya
9) Anak lelaki dari paman/saudara bapak sekandung (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
10) Anak lelaki paman/saudara bapak sebapak (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
11) Seorang lelaki yang membebaskan budak (mu’tiq)
12) Seorang perempuan yang membebaskan budak (mu’tiqah).
Ketiga: Mereka yang terkadang mewarisi dengan cara fardh, terkadang pula dengan cara ta’shib, dan terkadang menggabungkan antara keduanya (cara fardh dan cara ta’shib). Jumlahnya ada dua: 1) Bapak, dan  2) Kakek.
Keempat: Mereka yang terkadang mewarisi dengan cara fardh dan terkadang pula dengan cara ta’shib, namun tidak bisa menggabungkan antara cara fardh dan cara ta’shib selama-lamanya. Jumlahnya ada empat;
1) Anak perempuan, baik satu orang ataupun lebih
2) Cucu perempuan dari anak lelaki, walaupun saudara lelaki yang menjadikannya mewarisi dengan cara ta’shib (mu‘ashshib) secara tingkatan di bawahnya (seperti; cicit/anak lelakinya cucu lelaki dari anak lelaki, pen.), baik jumlahnya satu orang atau lebih
3) Saudara perempuan sekandung, baik jumlahnya satu orang atau lebih
4) Saudara perempuan sebapak, baik jumlahnya satu orang atau lebih.
(Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah karya Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, hal. 13, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)
Mengkaji Beberapa Ayat dan Hadits Seputar Waris
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Ayat-ayat waris yang Allah l sebutkan secara gamblang dalam Al-Qur’an ada tiga:
– Ayat pertama, tentang jatah waris ushul (orangtua si mayit dan yang di atasnya) dan furu’ (keturunan/anak cucu si mayit).
– Ayat kedua, tentang jatah waris suami, istri, dan anak-anak ibu (saudara seibu dari si mayit).
– Ayat ketiga, tentang jatah waris saudara-saudara si mayit selain dari pihak ibunya (saudara sekandung dan saudara sebapak).
Ayat pertama adalah firman Allah l:
“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian…” (An-Nisa’: 11)1
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan bahwa ahli waris dari furu’ (keturunan/anak cucu si mayit) ada tiga macam;
1. Lelaki semua: Allah l tidak menentukan jatah waris tertentu bagi mereka. Bentuk perwarisan mereka, dengan cara ta’shib yaitu mendapatkan apa yang tersisa dari harta waris, setelah dibagikan kepada ashhabul furudh.2 Ahli waris yang mewarisi dengan cara ta’shib ini disebut dengan ‘ashabah. Jika berjumlah satu orang, maka semua yang tersisa setelah pembagian terhadap ashhabul furudh menjadi miliknya. Jika berjumlah lebih dari satu orang (dua orang ke atas), maka apa yang tersisa dari pembagian tersebut dibagi sama rata sesama mereka.
2. Perempuan semua: Jika berjumlah satu orang, maka jatahnya adalah ½ (setengah) dari harta waris. Jika berjumlah lebih dari satu orang (dua orang ke atas), maka jatah warisnya adalah 2/3 (dua pertiga) dengan dibagi sama rata sesama mereka.
3. Terdiri dari lelaki dan perempuan: Allah l tidak menentukan jatah waris tertentu bagi mereka. Sehingga mereka mewarisi dengan cara ta’shib. Adapun cara pembagian harta waris tersebut di antara mereka, maka dengan sistem jatah lelaki dua kali lipat dari jatah perempuan.
Adapun ushul (orangtua si mayit dan yang di atasnya), mempunyai dua keadaan:
1. Si mayit mempunyai beberapa anak, baik lelaki maupun perempuan:
– Jika si mayit mempunyai sejumlah anak lelaki atau lelaki dan perempuan, maka orangtua si mayit baik bapak maupun ibu mendapatkan 1/6 (seperenam) dari harta waris, sedangkan sisanya untuk anak-anak si mayit (sebagai ‘ashabah). ‘Ashabah dari jenis furu’ lebih kuat kedudukannya dari ‘ashabah jenis ushul, karena furu’ merupakan bagian dari si mayit.
– Jika anak-anak si mayit tersebut dari kalangan perempuan saja, maka mereka mengambil jatah yang telah ditentukan Allah l untuk mereka yaitu 2/3 (duapertiga), dan jika tersisa maka untuk bapak si mayit, karena dia yang paling berhak mendapatkannya dari kalangan lelaki (‘ashabah). Jika bersama anak-anak perempuan dan bapak tersebut ada ibu si mayit, maka tak terbayangkan si bapak bisa mendapatkan sisa dari harta waris tersebut.3
2. Si mayit tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini kedua orangtua si mayit mewarisi hartanya. Sang ibu mendapat 1/3 (sepertiga), sedangkan bapak mendapatkan sisanya (‘ashabah). Kecuali jika si mayit mempunyai dua orang saudara atau lebih, maka sang ibu mendapat 1/6 (seperenam) dan sisanya untuk bapak. Kemudian jika mencermati firman Allah l:
“Dan ia diwarisi oleh kedua orangtuanya (saja)…”
Maka amat memungkinkan bagi selain kedua orangtua untuk mewarisi harta si mayit, sebagaimana dalam kasus yang dikenal dengan ‘Umariyyatani’, yaitu;
1) Si mayit tidaklah meninggalkan ahli waris kecuali suami, ibu, dan bapak.
2) Si mayit tidaklah meninggalkan ahli waris kecuali istri, ibu, dan bapak.
Dalam kondisi semacam ini suami maupun istri mengambil jatahnya terlebih dahulu (suami ½, sedangkan istri ¼), kemudian ibu mendapat 1/3 dari harta yang tersisa, sedangkan bapak mendapatkan sisanya. Karena Allah l telah menentukan jatah bapak dua kali lipat dari jatah ibu di saat yang mewarisi hanya mereka berdua saja, maka seperti itu pulalah manakala mereka berdua mewarisi bersama salah seorang ahli waris lainnya (sebagaimana kasus di atas). Wallahu a’lam.
Ayat kedua adalah firman Allah l:
“Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian……..” (An-Nisa’: 12)4
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan bahwa suami mempunyai dua keadaan:
1. Istrinya yang meninggal dunia tersebut mempunyai anak baik lelaki maupun perempuan. Dalam kondisi semacam ini, suami mendapatkan ¼ (seperempat) dari harta waris.
2. Istrinya yang meninggal dunia tersebut tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini, suami mendapatkan ½ (setengah) dari harta waris.
Dalam ayat ini pula Allah l menjelaskan bahwa istri juga mempunyai dua keadaan:
1. Suaminya yang meninggal dunia tersebut mempunyai anak, baik lelaki maupun perempuan. Dalam kondisi semacam ini, istri mendapatkan 1/8 (seperdelapan).
2. Suaminya yang meninggal dunia tersebut tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini, istri mendapatkan ¼ (seperempat).
Adapun anak-anak ibu (saudara seibu dari si mayit), maka Allah l menjelaskan bahwa mereka bisa mewarisi dalam kasus kalalah.5 Jika jumlahnya satu orang maka jatah warisnya adalah 1/6 (seperenam), dan jika dua orang atau lebih maka mereka bersekutu dalam 1/3 (sepertiga). Tidak ada perbedaan jatah antara lelaki dan perempuan di antara mereka (dibagi sama rata). Karena –wallahu a’lam– keterkaitan mereka dengan si mayit sebatas dari jalur ibu (perempuan) saja tanpa ada jalur dari bapak yang dapat menjadikan lelaki lebih banyak jatahnya dari perempuan.
Ayat ketiga adalah firman Allah l:
“Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah…’.” (An-Nisa’: 176)6
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan jatah waris saudara-saudara si mayit selain dari jalur ibunya, dalam hal ini adalah saudara si mayit sekandung, dan juga saudara sebapak. Mereka terbagi menjadi tiga:
1. Lelaki semua: Mereka mewarisi bersama-sama (tanpa ada jatah tertentu) dan dibagi sama rata sesama mereka.
2. Perempuan semua: Mereka mewarisi dengan jatah tertentu; jika satu orang maka mewarisi ½ (setengah) dan jika dua orang atau lebih maka mewarisi 2/3 (duapertiga) yang dibagi sama rata sesama mereka.
3. Lelaki dan perempuan: Mereka mewarisi bersama-sama (tanpa ada jatah tertentu) dan dibagi dengan sistem jatah lelaki dua kali lipat dari jatah perempuan.
Adapun sabda Rasulullah n:
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Berikanlah bagian/jatah pembagian waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, dan apa yang tersisa maka untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).”  (HR. Al-Bukhari, no. 6733, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)
Maka dapat diambil darinya jatah waris selain ushul (orangtua dan yang di atasnya), furu’ (keturunan/anak cucu si mayit), dan saudara-saudara si mayit. Tidaklah mewarisi dari mereka kecuali yang lelaki dan mewarisinya pun tanpa ada jatah tertentu (dengan cara ta’shib). Jika mereka terdiri dari beberapa jenis ahli waris, maka didahulukan yang lebih kuat/berhak, seperti: paman lebih didahulukan daripada anak paman tersebut, dan yang sekandung lebih didahulukan daripada yang sebapak saja.
Sedangkan firman Allah l:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Anfal: 75)
menerangkan tentang hak waris dzawil arham (karib kerabat) yang bukan ashhabul furudh dan bukan pula ‘ashabah. Akan tetapi ayat ini bukan sebagai nash dalam permasalahan waris. Lebih dari itu, para ulama berbeda pendapat tentang waris dzawil arham (karib kerabat) tersebut.”7 (Tashilul Faraidh, hal. 7-9)

1 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
2 Lihat kembali maknanya pada pembahasan ‘Bentuk Perwarisan dalam Hukum Waris Islam’.
3 Menurut hemat kami –wallahu a’lam– dalam kondisi semacam ini bapak masih mendapatkan sisa waris, dengan rincian sebagai berikut; anak-anak perempuan mendapat 2/3 karena jumlah mereka lebih dari satu, ibu mendapat 1/6 karena ada anak-anak si mayit, sedangkan bapak sebagai ‘ashabah. Setelah dihitung dengan pokok masalah (ashlul mas’alah) yaitu 6, maka anak-anak perempuan mendapat 4, ibu mendapat 1 dan sisanya 1 untuk bapak.
4 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
5 Kalalah adalah seseorang yang meninggal dunia tanpa mempunyai bapak dan anak.
6 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
7 Untuk mengetahui lebih jelas tentang dzawil arham dan permasalahan warisnya, silakan membaca pembahasan berikutnya ‘Kasus-Kasus Seputar Waris’.

0 komentar:

Kata-Kata Mutiara

(Oleh : Imam Supriadi)

A. PERIHAL KEBENARAN :

1. Kebenaran bukan diukur dari banyak dan sedikitnya orang yang berpendapat melainkan diukur dari kedalaman hati yang paling dalam yakni Hati Nurani.

2. Nyatakanlah yang benar itu Benar dan yang salah itu Salah, walau pahit sekalipun.

3. Menyatakan kebenaran tidak mesti berbuah pada hari yang sama.

4. Mengusung kebenaran pastilah banyak tentangan dan tantangannya.

5. Kebenaran sejati hanya ada di akhirat kelak. Tetapi kebenaran di dunia bukanlah tidak diperjuangkan, meski banyak tentangan dan tantangannya.

6. Berbuat kebaikan belum tentu berbuah kebenaran, tetapi yakinlah jika berbuat kebenaran akan berbuah kebaikan.

B. PERIHAL CINTA :

1. Mencintai seseorang tidaklah harus mengorbankan segala-galanya, karena akan berakibat mencintai dengan secara membabibuta.

2. Cinta tidak diukur dari seberapa banyak orang yang dicintai telah memberikan harta dan bendanya, melainkan seberapa dalam ketulusan hati yang telah diperlihatkan untuk yang dicintainya.

3. Orang yang beriman mengukur cintanya berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

4. Orang yang beriman itu cintanya semata hanya untuk Allah dan Rosulnya, bukan untuk kekasihnya atau siapapun yang bisa menjebaknya menjadi imannya berat sebelah.

5. Isteri yang sholihah adalah isteri yang bersolek karena tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Artinya, ia bersolek karena untuk kebutuhan suami tercinta, demi menjaga keutuhan cintanya kepada suami tercinta.

6. Cinta karena nafsu akan cepat pudar, tetapi Cinta karena Iman akan tetap langgeng.

7. Isteri yang setia adalah isteri yang bisa menjaga martabat suami dan dirinya.

8. Berbahagialah sepasang kekasih yang bisa selamat sampai ke pelaminan karena telah menjaga ‘harta’ yang paling berharga, karena ‘harta’ itu hanya diberikan ketika ijab qobul selesai diucapkan dihadapan Penghulu, Wali dan Para Saksi.

Ulang Tahun PKI di GELORA BUNG KARNO

PEMBANTAIAN MUSLIM DI ZANZIBAR - TANZANIA

(Tab Widget 3)