BAB 3 : KUASA BERPINDAH PERAN MAHASISWA
Ada masa di mana Indonesia lowong kepemimpinan: sejak awal
Oktober 1965 sampai Maret 1966 atau selama sekitar enam bulan. Bung
Karno masih sebagai presiden, tetapi sudah tidak punya kuasa lagi.
Beliau dilarang meninggalkan Istana Bogor atau lebih tepat menjadi
tawanan Soeharto. Sepanjang masa itu juga tidak ada keputusan penting
yang dikeluarkan oleh pemerintah. Soeharto lebih banyak menentukan
kebijakan negara, namun secara formal dia adalah Menpangad. Bung Karno
pada tenggang waktu itu belum benar-benar sampai pada ajal politik.
Beliau masih punya pengaruh, baik di Angkatan Bersenjata maupun di
kalangan Parpol-Parpol besar dan kecil. Para pimpinan Parpol umumnya
mendukung Angkatan Darat untuk membasmi PKI, namun mereka juga mendukung
Bung Karno yang berupaya memulihkan wibawa, walaupun Bung Karno akrab
dengan PKI.
Sepintas tampak ada dualisme sikap para pimpinan Parpol. Di
satu sisi anti-PKI, di sisi lain mendukung Bung Karno. Sedangkan di
kalangan Angkatan Bersenjata umumnya juga menentang PKI, namun sebagian
mendukung Bung Karno. Sebagaimana umumnya menghadapi masa transisi,
sebagian perwira merasa khawatir tentang posisi mereka. Mereka tidak
tahu apa yang akan terjadi jika Soeharto menjadi pemimpin kelak. Di sisi
lain, proses kudeta merangkak belum berakhir. Manuver Soeharto merebut
kekuasaan tertinggi ada empat tahap:
1. menyingkirkan saingan
beratnya sesama perwira tertinggi. 2. Menghabisi PKI, partai besar yang
akrab dengan Bung Karno 3. Melumpuhkan para menteri pembantu presiden 4.
Melumpuhkan Bung Karno.
Mengapa harus empat tahap? Jawabnya adalah bahwa sebelum G30S
Soeharto bukan perwira yang diperhitungkan. Karena selain pangkatnya
masih Mayjen, ia juga pernah memiliki cacat saat menyelundupkan barang
di Jateng sehingga untuk mencapai pimpinan puncak ia harus melewati
proses panjang. Sampai di sini sudah dua tahap tercapai: para jenderal
saingannya sudah dihabisi dan PKI sudah digempur. Kendati demikian, Bung
Karno masih juga punya pengaruh. Selain itu para menteri juga masih ada
walaupun sudah tidak berfungsi.
Untuk mengimbangi – lebih tepat
melumpuhkan – sisa-sisa kekuatan Bung Karno, Soeharto mengerahkan
mahasiswa. Seperti disebut di bagian terdahulu, pada akhir Oktober 1965
di rumah Brigjen Sjarif Thajeb, atas perintah Soeharto dibentuk KAMI.
Nah, sejak itu demo mahasiswa didukung oleh tentara terus bergerak
mengkritik Presiden Soekarno. Saat itulah muncul slogan Tritura (tri
atau tiga tuntutan rakyat):
1. bubarkan PKI
2. bersihkan anggota kabinet dari unsur-unsur PKI
3. turunkan harga kebutuhan pokok.
Bung Karno – yang masih menjabat sebagai presiden – lantas
membubarkan KAMI. Tetapi setelah KAMI bubar muncul kelompok sejenis
berganti nama menjadi KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar
Indonesia). Tujuannya tetap sama: berdemo mengkritik Presiden Soekarno.
Dan karena demo itu didukung oleh tentara tentu saja para pemuda dan
mahasiswa berani. Ini yang kemudian disebut kelompok pemuda Angkatan
’66, kelompok yang diprakarsai oleh Soeharto. Sementara itu harga
kebutuhan pokok rakyat memang melambung tinggi. Saya tahu persis
melonjaknya harga itu terjadi karena rekayasa Soeharto. Tepatnya
Soeharto dibantu oleh dua pengusaha Cina: Liem Sioe Liong (dulu
bekerjasama menyelundupkan barang) dan Bob Hasan (juga teman Soeharto
sewaktu di Jawa Tengah).
Itu dilakukan di tenggang waktu antara Oktober 1965 sampai
Maret 1966. Akibat selanjutnya: inflasi melambung sampai 600%, defisit
anggaran belanja negara semakin parah sampai 300%. Rakyat tercekik.
Untuk membeli beras, gula dan minyak orang harus antri. Inilah operasi
intelijen yang sukses melumpuhkan ekonomi negara. Tentang hubungan
bisnis Soeharto dengan Liem Sioe Liong dan Bob Hasan di Jateng yang
paling tahu adalah Mayjen Pranoto. Saat Soeharto sebagai Panglima Divisi
Diponegoro, Pranoto adalah kepala stafnya. Pranoto sudah sangat jengkel
pada Soeharto perihal bisnis memanfaatkan jabatan yang dilakukan
Soeharto, dibantu Liem Sioe Liong dan Bob Hasan.
Sangat mungkin ulah Soeharto dan Liem menyelundupkan barang
dulu dibongkar oleh Pranoto sehingga akhirnya diketahui Menpangad Yani,
sampai-sampai Yani menempeleng Soeharto. Jadi tindakan Soeharto menjegal
Pranoto yang diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi caretaker
Menpangad (1 Oktober 1965) bukan semata- mata perebutan jabatan (dengan
cara kotor) tetapi juga ada faktor dendam pribadinya.
Sementara, gerakan mahasiswa menuntut pemerintah semakin
gencar. Tritura terus diteriakkan hampir setiap hari. Soeharto
merekayasa agar harga kebutuhan pokok melambung. Dia pula yang
mengerahkan mahasiswa berdemo menuntut penurunan harga. Sedangkan rakyat
jelas mendukung gerakan mahasiswa karena tuntutan mereka sejalan dengan
keinginan rakyat. Siapa pun yang menjadi presiden saat itu pasti tidak
dapat berbuat banyak. Apalagi Presiden Soekarno dilarang meninggalkan
Istana Bogor. Di sini semakin jelas kelicikan Soeharto. Cara Soeharto
menjatuhkan Soekarno benar-benar efektif walaupun di mata rakyat saat
itu tidak kelihatan.
Saya menilai hanya sebagian mahasiswa yang berdemo dengan
motivasi tercekik oleh harga bahan kebutuhan pokok sebab mereka bukan
orang awam, mereka bukan anak kecil. Sebagian dari mereka pasti tahu
bahwa harga kebutuhan pokok melejit akibat rekayasa Soeharto. Mereka
adalah kaum intelektuil yang mengikuti perkembangan negara mereka.
Tetapi gerakan mereka didukung oleh tentara dan rakyat – dua kekuatan
utama bangsa ini – sehingga sebagian yang sadar akan kondisi yang
sebenarnya tidak berani menentang arus. Semua pasti mencari selamat bagi
diri sendiri. Mereka terpaksa terbawa arus, ikut menentang pemerintah.
Pada tanggal 10 Januari 1966 ribuan mahasiswa berkumpul di
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba. Mereka meneriakkan
Tritura. Komandan RPKAD (kelak diganti menjadi Kopassus) Sarwo Edhi
berpidato di tengah ribuan mahasiswa untuk mengobarkan semangat
mahasiswa berdemo. Usai Sarwo Edhi berpidato ribuan mahasiswa bergerak
turun ke jalan menuju kantor P&K untuk menyampaikan tuntutan
tersebut. Di P&K mereka bertemu dengan Wakil Perdana Menteri-III
Chaerul Saleh. Mahasiswa menyampaikan tuntutan mereka kepada Chaerul
Saleh. Tuntutan ditanggapi Chaerul sambil lalu.
Lantas mahasiswa melanjutkan demo turun ke jalan. Pendapat umum
yang dibentuk melalui surat kabar menyebutkan bahwa tuntutan mahasiswa
itu murni. Ini jelas menyesatkan masyarakat. Bahan kebutuhan pokok
sengaja dimusnahkan oleh Soeharto. Di sisi lain, mahasiswa bergerak
didukung oleh tentara yang dipimpin Soeharto. Jadi mana bisa tuntutan
mereka dikatakan murni? Satu-satunya tuntutan mahasiswa yang murni –
menurut saya – adalah: bubarkan PKI.
Sebagai gambaran: kelak setelah Soeharto berkuasa dan
kepentingan politiknya sudah tercapai, ia memberangus mahasiswa. Caranya
dengan memerintahkan menteri P&K mengeluarkan peraturan NKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus) dan BKK (Badan Koordinasi Kemahasiswaan).
Itu terjadi di pertengahan 1970-an. Intinya: mahasiswa dilarang
berdemo. Saya di dalam penjara mengikuti berita itu dan mengamati bahwa
ternyata Soeharto ngeri dengan bekas salah satu senjatanya, mahasiswa.
Akhirnya ia juga jatuh tersungkur antara lain akibat tekanan ribuan
mahasiswa yang menduduki Gedung DPR/MPR pertengahan Mei 1998.
Saya tidak pernah menyesal pada sikap pemuda dan mahasiswa
Angkatan-66. Kondisi dan situasi negara saat itu memungkinkan mereka
bersikap begitu. Generasi muda di mana pun di dunia ini cenderung
berpihak pada pembaharuan. Karakteristik ini dimanfaatkan dengan baik
oleh orang yang haus kuasa. Apalagi secara de facto pemimpin Indonesia
sejak 1 Oktober 1965 adalah Soeharto, walau secara de jure ia adalah
Menpangad. Bung Karno memang masih sebagai Presiden RI dan pemerintah
masih berdiri, tetapi kondisi negara tak terkendali, baik oleh
penggempuran besar-besaran tentara terhadap rakyat untuk membersihkan
PKI maupun oleh kondisi perekonomian yang rusak berat. Orang tidak perlu
susah-susah mencari tahu apakah ini hasil rekayasa atau murni
ketidak-mampuan pemerintah, sehingga rakyat secara jelas menyaksikan
drama kejatuhan Bung Karno dari tampuk kekuasaannya.
Namun gerakan mahasiswa ternyata ditanggapi Bung Karno. Pada 15
Januari 1966 dalam Sidang Kabinet Presiden Soekarno berpidato menjawab
Tritura yang dikobarkan oleh mahasiswa. Menurut Presiden Soekarno
Tritura adalah hasil rekayasa TNI AD. Dengarkan cuplikan pidato Soekarno
yang sebagian sempat saya catat. Bunyinya demikian:
“Saya tidak akan
mundur sejengkal pun. Saya tetap Pemimpin Besar Revolusi. Maka saya
tidak dapat bicara lain. Ayo¡¦.Siapa yang membutuhkan Soekarno, setuju
dengan Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi, maka satukan seluruh
kekuatanmu. Pertahankan Soekarno. Berdirilah di belakang Soekarno.
Tunggu komando¡¦ “
Inilah pernyataan Bung Karno di depan publik yang paling keras.
Dengan pidato Bung Karno yang berapi-api, semua pihak menjadi cemas.
Bung Karno masih punya pendukung, termasuk dari Angkatan Bersenjata.
Para menterinya masih lengkap. Jabatannya masih Presiden RI. Maka semua
pihak khawatir Indonesia bakal memasuki pergolakan sangat hebat dalam
waktu dekat dan bakal terjadi pertumpahan darah yang jauh lebih besar
dari G30S. Maka setelah itu – pada malam hari berikutnya – saya selaku
Wakil Perdana Menteri-I membentuk Barisan Soekarno. Anggotanya semua
menteri. Tujuannya tentu untuk membela Presiden. Front Nasional yang
sudah ada sebelumnya harus masuk ke Barisan Soekarno.
Pada tanggal 20 Januari 1966 para menteri berkumpul di Istana.
Mereka menyatakan sepakat menjadi bagian paling depan dari pendukung
Soekarno. Itu merupakan bagian dari upaya pendukung Soekarno untuk come
back, walaupun secara formal Soekarno masih Presiden-RI, pun secara
formal pendukung terdepan masih Menteri Negara. Namun Bung Karno tidak
melakukan follow-up, tidak ada tindak-lanjut dari pidatonya yang keras
itu. Tidak ada perintah apa pun meski ia tahu pendukungnya
sudah siap membela. Para pendukungnya pun tidak bergerak sebab
dalam pidatonya Bung Karno antara lain menyerukan: tunggu
komando¡¦Seruan ini ditaati para pendukungnya. Dan komando ternyata
tidak juga kunjung datang. Seandainya komando benar-benar diserukan,
saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Indonesia.
SUPERSEMAR
Sebuah sumber saya mengatakan bahwa pada tanggal 10 Maret 1966
Soeharto mengadakan pertemuan di rumahnya di Jalan H Agus Salim.
Pertemuan dihadiri oleh Pangdam Jaya Mayjen Amir Machmud, Pangdam Jatim
Mayjen Basuki Rahmat dan Mayjen M Yusuf. Inti pembicaraan: Soeharto
selaku Menpangad minta dukungan untuk mendapatkan suatu mandat penuh
dari Presiden RI Soekarno. Tujuannya adalah agar dapat mengatasi
kesulitan-kesulitan yang dihadapi negara, di samping untuk menciptakan
suasana aman dan politik yang stabil. Tiga jenderal yang menghadap
akhirnya sepakat dengan ide Menpangad.
Lantas Soeharto menyampaikan pidato penting. Pidatonya
berapi-api mengkritik kondisi negara yang tidak menentu, sedangkan para
menteri tidak dapat menyelesaikan persoalan bangsa. Merka hanya bicara
di sidang-sidang, tidak melakukan tindakan kongkrit. Ia menyerukan: para
mahasiswa dari Jakarta, Bandung dan Bogor untuk boleh saja berdemo di
saat Sidang Kabinet yang akan diselenggarakan esok harinya (11 Maret
1966) di Istana Merdeka. Akibatnya luar biasa: Pagi-pagi sekali sebelum
sidang dibuka ribuan mahasiswa datang berbondong-bondong menuju Istana.
Mereka mendesak masuk ke halaman Istana. Pasukan Kawal Presiden Cakra
Bhirawa berupaya menahan mereka di pagar Istana. Petugas sampai terpaksa
meletuskan tembakan peringatan ke udara. Keadaan ternyata tidak mudah
dikendalikan oleh Pasukan Kawal Presiden. Soeharto tidak hanya
menggerakkan mahasiswa, namun juga memberi dukungan kepada mereka dengan
mengerahkan tentara (belakangan saya ketahui tiga kompi RPKAD didukung
oleh pasukan Kostrad pimpinan Kemal Idris). Tujuan mereka antara lain
menangkap saya. Soeharto juga sudah setuju.
Tentara mengenakan seragam loreng, bersenjata lengkap namun
tanpa tanda pengenal. Mereka bersama mahasiswa menyebar di jalanan yang
akan dilewati oleh mobil menteri peserta sidang. Begitu melihat mobil
menteri mereka langsung mencegat. Ban mobil digembosi. Istana pun
dikepung sedemikian rupa. Pasukan tanpa tanda pengenal itu
herhadap-hadapan dengan Pasukan Cakra Bhirawa dalam jarak dekat. Saya
berkesimpulan bahwa Soeharto mengharapkan dengan begitu Soekarno akan
menyerah tanpa syarat. Keadaan benar-benar gawat, sebab bisa timbul
korban yang sangat besar. Saya menilai Soeharto adalah pembunuh berdarah
dingin, dia tega membunuh siapa saja demi terwujud ambisi politiknya.
Coba bayangkan kalau Pasukan Cakra Bhirawa saat itu bertindak keras
menghalau mahasiswa, tentu bakal terjadi pertumpahan darah yang luar
biasa. Sebab mahasiswa akan bertahan mati- matian karena merasa mendapat
angin dan didukung oleh tentara. Juga bisa terjadi perang kota antara
pasukan Cakra Bhirawa melawan pasukan tanpa identitas.
Hebatnya, dalam Sidang Kabinet itu Soeharto tidak datang dengan
alasan sakit batuk.Informasi sakitnya Soeharto ini disampaikan oleh
Amir Machmud beberapa waktu kemudian. Menurut pengakuan Amir Machmud –
seusai mengikuti Sidang Kabinet -ia bersama Basuki Rachmat dan M Yusuf
mendatangi rumah Soeharto. Soeharto sakit tenggorokan sehingga tidak
dapat bicara keras. Saat kami datang ke rumahnya dia masih mengenakan
piyama dengan leher dibalut, kata Amir Machmud. Tetapi seorang intelijen
saya melaporkan bahwa pada sore harinya Soeharto memimpin rapat di
Makostrad. Di sini semakin jelas bahwa Soeharto adalah pembohong besar.
Jika seandainya dalam Sidang Kabinet Soeharto ikut (sebagai Menteri
Panglima Angkatan Darat seharusnya dia ikut) maka ada 3 risiko yang
bakal dihadapi oleh Soeharto:
1. dalam keadaan Istana dikepung oleh mahasiswa dan tentara
tentu dalam sidang Bung Karno akan bertanya kepada Soeharto: Harto,
engkau yang telah kuangkat menjadi Panglima Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban, ayo bergerak. Bereskan pengacau-pengacau itu. Maka perintah
Presiden itu bakal ibarat buah simalakama bagi Soeharto: dimakan ibu
mati, tak dimakan bapak tewas.
2. Jika Soeharto melaksanakan perintah, maka namanya bakal
merosot di mata para demonstran yang ia gerakkan sendiri. Ini berarti
peluang bagus bagi Nasution untuk tampil sebagai presiden.
3. Jika Soeharto menolak perintah di depan Sidang Kabinet, maka
bisa berakibat fatal bagi Soeharto. Tentu Bung Karno bisa segera
memerintahkan Pasukan Cakra Bhirawa untuk menangkap Soeharto seketika
itu juga.
Akhirnya cara terbaik bagi Soeharto untuk menghindari semua
kemungkinan buruk itu adalah nyakit (pura-pura sakit). Bukankah ini
membuktikan bahwa Soeharto licin dan pembunuh berdarah dingin? Ia tidak
peduli bahwa tindakannya mengerahkan ribuan mahasiswa dan tentar a bisa
menimbulkan konflik besar yang menghasilkan banjir darah bangsanya
sendiri. Sidang Kabinet 11 maret 1966 dibuka oleh Presiden Soekarno. Di
beberapa buku juga disebutkan bahwa setelah Presiden Soekarno membuka
sidang, beberapa saat kemudian pengawal presiden, Brigjen Sabur,
menyodorkan secarik kertas ke meja presiden. Isinya singkat: Di luar
banyak pasukan tak dikenal. Beberapa saat kemudian Presiden keluar
meninggalkan ruang sidang. Pimpinan sidang diserahkan kepada Leimena.
Saya lantas menyusul keluar. Banyak ditulis saat keluar sepatu saya
copot karena terburu-buru. Memang benar. Dulu saat sidang kabinet
biasanya para menteri mencopot sepatu – mungkin karena kegerahan duduk
lama bersepatu – tetapi sepatu yang dicopot itu tidak kelihatan oleh
peserta sidang karena tertutup meja. Saya juga biasa melakukan hal itu.
Nah, saat kondisi genting sehingga Presiden meninggalkan ruang sidang
secara mendadak, saya keluar terburu-buru sehingga tidak sempat lagi
memakai sepatu.
Begitu keluar dari ruang sidang – ini yang tidak ada di dalam
buku-buku sejarah – saya sempat bingung, akan ke mana? Saya mendapat
informasi, pasukan tak dikenal itu sebenarnya mengincar keselamatan
saya. Padahal begitu keluar ruangan saya tidak melihat Bung Karno yang
keluar ruangan lebih dulu. Dalam keadaan bingung saya lihat sebuah
sepeda, entah milik siapa. Maka tanpa banyak pikir lagi saya naiki
sepeda itu. Toh mobil saya – dan mobil semua menteri – sudah digembosi
oleh para demonstran. Dalam kondisi hiruk-pikuk di sekitar Istana saya
keluar naik sepeda. Ternyata tidak ada yang tahu bahwa saya adalah
Soebandrio yang sedang diincar tentara. Padahal saya naik sepeda
melewati ribuan mahasiswa dan tentara yang meneriakkan yel-yel Tritura
dan segala macam kecaman terhadap Bung Karno. Memang, saat menggenjot
sepeda saya selalu menunduk, tetapi kalau ada yang teliti pasti saya
ketahuan.
Sepeda saya terus meluncur ke selatan.
Tujuan saya pulang. Sampai di Bundaran Air Mancur (perempatan
Bank Indonesia) saya melihat begitu banyak mahasiswa dan tentara. Mereka
tidak hanya berada di sekitar Istana tetapi juga menyemut di Jalan
Thamrin. Sampai di sini perasaan saya jadi tidak enak. Memang sejauh ini
saya sudah lolos. Tetapi bisakah melewati ribuan mahasiswa yang
menyemut itu? Maka seketika itu juga saya memutuskan untuk kembali,
berbalik arah. Saya kembali ke Istana. Hebatnya, saya sampai di Istana
lagi tanpa diketahui oleh para demonstran. Di dalam buku-buku sejarah
disebutkan bahwa begitu keluar dari ruang sidang, saya langsung memburu
Bung Karno naik helikopter. Yang sebenarnya terjadi seperti saya
sebutkan ini: Begitu tiba kembali di Istana, saya lihat ada helikopter.
Saya tidak ahu apakah sejak tadi heli itu sudah ada atau baru datang.
Atau mungkin karena saya panik, saya tadi tidak melihat heli yang ada di
sana sejak tadi. Namun yang melegakan adalah bahwa beberapa saat
kemudian saya melihat Bung Karno didampingi oleh para ajudan berjalan
menuju heli.
Karena itu sepeda saya geletakkan dan saya berlari menuju heli.
Mungkin saat itulah – ketika berlari menuju heli tanpa sepatu – saya
dilihat banyak orang sehingga ditulis di koran-koran: Dr. Soebandrio
berlari menyusul Bung Karno menuju heli tanpa sepatu. Akhirnya saya bisa
masuk ke dalam heli dan terbang bersama Bung Karno menuju Istana Bogor.
Jadi sebenarnya begitu meninggalkan ruang sidang Bung Karno tidak
langsung menuju heli, tetapi ada tenggang waktu cukup lama. Saya sudah
menggenjot sepeda dari Istana ke Bundaran Air Mancur dan kembali lagi.
Mungkin setelah meninggalkan ruang sidang Bung Karno masih mengadakan
pertemuan dengan para ajudan dan penasihat militer untuk membahas
situasi, sehingga hal itu menguntungkan saya.
Seandainya tidak bertemu Bung Karno, entah bagaimana nasib
saya. Setelah peristiwa itu saya merenung. Untungnya saat itu saya dan
Leimena lolos dari target penangkapan mereka. Seandainya saya tertangkap
atau dihabisi, maka bakal terjadi bentrokan hebat. Bung Karno dan
pasukannya yang masih setia tidak akan tinggal diam. Akibatnya bisa
banjir darah. Kalau itu terjadi pasti Soeharto akan berbalik
mengkhianati teman-temannya yang semula dia tugaskan untuk mengerahkan
pasukan mengepung Istana. Percobaan kudeta 3 Juli 1946 yang gagal
menjadi dasarnya. Juga bantuan pasukan Soeharto kepada Letkol Untung
untuk membantai para jenderal menjadi buktinya.
Menjelang petang Istana Bogor didatangi oleh tiga jenderal
(Basuki Rachmat, Amir Machmud dan M Yusuf). Ketika itu tiga Waperdam
(saya, Leimena dan Chaerul Saleh) sudah di sana. Leimena dan Chaerul
menyusul kami ke Istana Bogor melalui jalan darat. Kami bertiga sempat
istirahat di paviliun. Ketika tiga jenderal datang Bung Karno menerima
mereka di gedung utama. Mereka berbicara cukup lama. Para Waperdam hanya
siaga di paviliun. Beberapa jam kemudian saya, Chaerul dan Leimena
dipanggil oleh Bung Karno masuk ke ruang pertemuan. Di sana ada tiga
jenderal itu. Namun saat kami masuk sudah ada kesepakatan antara mereka
dan Bung Karno.
Saya masuk ruang pertemuan. Bung Karno sedang membaca surat.
Basuki Rachmat, Amir Machmud dan M Yusuf duduk di depannya. Lantas saya
disodori surat yang dibaca oleh Bung Karno, sedangkan Chaerul Saleh
duduk di sebelah saya. Isi persisnya saya sudah lupa tetapi intinya ada
empat hal. Presiden Soekarno memberi mandat kepada Soeharto untuk:
1. mengamankan wilayah Jakarta dan sekitarnya. Untuk itu harus dijalin kerjasama dengan unsur-unsur kekuatan lainnya.
2. Penerima mandat wajib melaporkan kepada Presiden atas semua tindakan yang akan dilaksanakan
3. Penerima mandat wajib mengamankan Presiden serta seluruh keluarganya
4. Penerima mandat wajib melestarikan ajaran Bung Karno.
Soal urutannya mungkin terbalik-balik namun intinya berisi
seperti itu. Bagaimana Ban, kau setuju? Tanya Bung Karno. Beberapa saat
saya diam. Saya pikir, Bung Karno sebenarnya hanya mengharapkan saya
menyatakan setuju, padahal dalam hati saya tidak setuju. Bukankah
Presiden adalah Panglima Tertinggi ABRI dan seharusnya kendali keamanan
negara berada di tangan Presiden? Saya merasa Bung Karno sudah ditekan.
Terbukti ada kalimat Mengamankan pribadi Presiden dan keluarganya,
artinya keselamatan Presiden terancam oleh pihak yang menekan agar surat
tersebut dikeluarkan. Tetapi kalimat unik ini tidak ada dalam sejarah
versi Orde Baru. Bahkan lebih hebat lagi, naskah Supersemar yang membuat
Soeharto ditunjuk sebagai pengemban Supersemar (menjadi presiden tanpa
melalui proses pemilu dan dipilih MPR) kini sudah tiada. Tidak jelas
keberadaan surat yang begitu penting.
Bagaimana, Ban, setuju? Tanya Bung Karno lagi. Ya, bagaimana,
bisa berbuat apa saya? Bung Karno sudah berunding tanpa kami jawab saya.
Lantas dipotong oleh Bung Karno: Tapi kau setuju? Kalau bisa, perintah
lisan saja kata saya memberanikan diri. Saya lirik, tiga jenderal itu
melotot ke arah saya tetapi saya tidak takut. Mereka pasti geram
mendengar kalimat saya yang terakhir itu. Tetapi saya tahu mereka tidak
bisa berbuat banyak. Suasana saat itu terasa tegang.
Lantas Amir Machmud menyela: Bapak Presiden tanda tangan saja. Bismillah saja, pak..
Bung
Karno rupanya sudah ditekan tiga jenderal itu saat berunding tadi. Raut
wajahnya terlihat ragu-ragu, tetapi seperti mengharapkan dukungan kami
agar setuju. Akhirnya saya setuju. Chaerul dan Leimena juga menyatakan
setuju. Bung Karno lantas teken (tanda tangan). Tiga jenderal langsung
berangkat kembali ke Jakarta menemui Soeharto yang mengutus mereka.
Bahkan mereka menolak ketika ditawari Bung Karno untuk makan malam
bersama. Maaf, pak. Karena hari sudah malam, ujar salah seorang dari
mereka. Dengan wajah berseri mereka membawa surat bersejarah yang
kemudian dinamakan Supersemar. Esoknya, 12 Maret 1966, Soeharto langsung
mengumumkan pembubaran PKI. Uniknya, pembubaran PKI itu menggunakan
surat keputusan Presiden nomor 113
tahun 1966. Saat diumumkan juga dibacakan ditandatangani oleh
Presiden Soekarno. Enam hari kemudian 15 menteri yang masih aktif
ditangkapi. Tentu saja Soeharto tidak melapor lebih dahulu kepada
Presiden. Untuk pembubaran PKI, surat malah baru sampai ke tangan
Soeharto tengah malam dan esok siangnya ia langsung mengambil kebijakan
itu. Untuk penangkapan 15 menteri, alasannya adalah agar para menteri
itu jangan sampai menjadi korban sasaran kemarahan rakyat yang tidak
terkendali. Tetapi ia juga menyampaikan alasan yang kontradiktif yakni:
para menteri hanyalah pembantu presiden, bukan bentuk kolektif
pemerintahan. Jadi bisa saja ditangkap. Yang jelas, begitu ditangkap
para menteri langsung ditahan. Tuduhannya gampang: terlibat G30S/PKI –
tuduhan yang sangat ditakuti seluruh rakyat Indonesia sepanjang Soeharto
berkuasa. Mengkritik kebijaksanaan pemerintahan Soeharto bisa dituduh
PKI.
Surat Perintah 11 Maret 1966 sudah diselewengkan. Soeharto
menafsirkannya sebagai: Bung Karno menyerahkan kekuasaan kepada
Soeharto, bukan perintah memulihkan keamanan Ibukota. Sebagai orang yang
tahu persis kondisi saat itu, saya sangat yakin tujuan Soeharto
membubarkan PKI dan menangkapi 15 menteri adalah rangkaian strategi
untuk meraih puncak kekuasaan. Seperti disebut di muka, strategi
Soeharto ada empat tahap: – habisi para jenderal saingan – hancurkan PKI
– copoti para menteri – jatuhkan Bung Karno.
Kini yang dicapai Soeharto sudah tiga tahap. Tinggal tahap
terakhir. Bung Karno pun bereaksi. Tidak benar jika Bung Karno diam
saja. Beliau memerintahkan Leimena menemui Soeharto menanyakan hal itu:
Bagaimana ini? Surat perintah hanya untuk mengamankan Jakarta, bukan
untuk pembubaran PKI. Kok malah main tangkap, kata Leimena kepada
Soeharto.Tetapi Soeharto tidak menggubris. Seperti terjadi pada tanggal 3
Oktober 1965 – saat Leimena protes pada Soeharto karena Bung Karno
ditawan di Istana Bogor – Soeharto menyatakan: Pak Leimena jangan ikut
campur. Sekarang saya yang kuasa. Leimena kembali ke Istana Bogor
melaporkan reaksi Soeharto. Dan Bung Karno terdiam, tetapi dari wajahnya
kelihatan jelas bahwa beliau sedang marah. Dari laporan Leimena kami
tahu bahwa saat itu situasi Jakarta sangat tegang: tank dan kendaraan
lapis baja bersiaga di setiap ujung jalan, tentara ada di mana-mana.
Mereka dikenali sebagai pasukan Kostrad dan Brigade Para 3 Yon
Siliwangi. Kali ini untuk menakut- nakuti anggota PKI yang jumlahnya
masih sangat besar saat itu. Mungkin pula ditujukan untuk memberikan
tekanan psikologis terhadap Bung Karno yang sudah kehilangan kuasa agar
tidak menghalang-halangi pembubaran PKI atau mungkin juga ditujukan
untuk kedua-duanya. 15 menteri yang ditangkapi adalah:
1. Saya (Waperdam-I merangkap Menlu, merangkap Kepala BPI)
2. Waperdam-II Chaerul Saleh
3. Menteri Tenaga Listrik S. Reksoprojo
4. Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Sumardjo
5. Menteri Keuangan Oei Tjoe Tat
6. Menteri Bank Sentral dan Gubernur BI Yusuf Muda Dalam
7. Menteri Pertambangan Armunanto
8. Menteri Irigasi dan Pembangunan Desa Ir. Surahman
9. Menteri Perburuhan Sutomo Martoprojo
10. Menteri Kehakiman Andjarwinata
11. Menteri Penerangan Asmuadi
12. Menteri Urusan Keamanan Letkol Imam Syafi’i
13. Menteri Sekretaris Front Nasional Ir. Tualaka
14. Menteri Transmigrasi dan Koperasi Ahmadi
15. Menteri Dalam Negeri merangkap Gubernur Jakarta Raya Sumarno Sastrowidjojo
Meskipun sudah menangkap 15 menteri yang masih aktif
menjalankan tugas, namun Soeharto tanpa rasa malu sedikit pun menyatakan
bahwa kekuasaannya diperoleh secara konstitusional. Padahal ketika
menangkap kami (para menteri) perintah Soeharto kepada tentara yang
melaksanakan berbunyi demikian: Tangkap dulu mereka, alasannya cari
kemudian. Itulah filsafat Soeharto dalam logika kekerasannya. Persis
seperti dilakukan Soeharto pada tragedi 1 Oktober 1965. Beberapa jam
setelah para jenderal dibunuh, kelompok bayangan Soeharto langsung
mengumumkan: G30S didalangi PKI. Lantas Soeharto memerintahkan: Basmi
dulu partai itu (PKI), bukti-bukti cari kemudian. Apakah ini
konstitusional seperti yang sangat sering dikatakan Soeharto ketika dia
memerintah?
MELENGGANG KE ISTANA
Kini sudah tinggal setengah tahap lagi dari bagian tahap
terakhir: jatuhkan Bung Karno. Setelah Supersemar – ketika Soeharto
membubarkan PKI dan menangkapi para menteri setia – Bung Karno
sebenarnya sudah setengah jatuh. Beliau sudah tidak berdaya dan para
menterinya yang masih aktif ditangkapi. Maka ajal politik tinggal tunggu
waktu. Setelah PKI resmi dibubarkan, tiga tokoh pimpinan PKI – yaitu DN
Aidit, Njoto dan Lukman – ditangkap hidup-hidup. Presiden Soekarno yang
sudah kehilangan powernya menolak memerintahkan mengadili mereka (entah
mengapa). Persoalan ini lantas diambil-alih oleh Soeharto. Para
pimpinan PKI itu diadili dengan cara tersendiri. Soeharto memerintahkan
tentara menembak mati ketiganya. Dan ketiganya memang didor tanpa
melalui proses hukum yang berlaku.
Dengan perlakuan Soeharto seperti itu sangat wajar jika saya
katakan bahwa Soeharto tidak ingin kedoknya (memanipulir G30S)
terbongkar di pengadilan jika tiga pimpinan PKI itu diadili. Sedangkan
saya yang mengalami semua kejadian ini jelas yakin bahwa Soeharto
terlibat G30S. Setelah Supersemar, Soeharto membongkar-pasang
keanggotaan DPRGR yang merupakan bagian dari MPRS. Caranya dengan
merampas kursi yang semula diduduki oleh anggota PKI dan menggantinya
dengan orang-orang Soeharto sendiri. Kemudian Soeharto menyuruh MPRS
(yang sebagian besar sudah diisi orang- orangnya) bersidang. Inti sidang
adalah mengukuhkan Supersemar secara konstitusional.
Bersamaan dengan itu pembantaian besar-besaran terhadap anggota
PKI sudah dilegalkan. Keluarga anggota PKI, teman-teman mereka, bahkan
ada juga rakyat yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan PKI ikut
terbunuh. Darah orang PKI, keluarga dan teman mereka halal bila
ditumpahkan. Inilah pembantaian terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
Tidak ada yang tahu persis berapa jumlah rakyat yang terbunuh. Ada yang
mengatakan 800.000, ada yang mengatakan 1.000.000. Yang paling tinggi
adalah pernyataan Sarwo Edhi Wibowo yang katanya mencapai 3.000.000
manusia.
Dalam sidang MPRS Juni 1966 Soeharto menetapkan RI kembali ke
UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Juga memerintahkan mencabut
Ketetapan MPRS tahun 1963 yang mengangkat Bung Karno sebagai presiden
seumur hidup. Juga menyatakan pemberian gelar Pemimpin Besar Revolusi
terhadap Bung Karno tidak memiliki kekuatan hukum. Asal diketahui,
pengangkatan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup bukan datang dari
Bung Karno. Juga bukan dari pendukung setia Bung Karno (PKI).
Pengangkatan itu atas usulan perwira AD sendiri, yakni Brigjen
Suhardiman. Pada awal Juli 1966 Soeharto menyetujui Nasution menjadi
ketua MPRS. Beberapa hari kemudian – 5 Juli 1966 – MPRS mengeluarkan
ketetapan: Soeharto selaku Pengemban Supersemar diberi wewenang
membentuk kabinet. Maka dibentuklah Kabinet Ampera menggantikan Kabinet
Dwikora. Kabinet baru ini tidak lagi berada di bawah kekuasaan Presiden
Soekarno, namun sudah di bawah Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet.
Sejak itu secara formal berakhirlah pemerintahan Presiden Soekarno.
Nasution yang baru terpilih menjadi ketua MPRS segera
menyanyikan lagu gubahan Kelompok Bayangan Soeharto. Tap MPRS yang lahir
sebelum Nasution tampil, yang meminta Presiden Soekarno melengkapi
pertanggung-jawaban kepada MPRS tentang sebab-sebab G30S kemudian
dinyatakan ditutup begitu saja. Pada Desember 1966 Panglima AU Oemar
Dhani ditangkap, menyusul kemudian para perwira pendukung Bung Karno
lainnya. Mereka semua dihukum bertahun-tahun tanpa kesalahan yang jelas.
Proses selanjutnya: praktis Soeharto memimpin Indonesia.
Perlahan namun pasti Soeharto melenggang menuju kantor di Istana Negara.
Soekarno (yang katanya akan dikudeta oleh PKI) secara politis sama
sekali sudah tidak berdaya. Melalui UU nr. 10 tahun 1966, DPRGR dan MPRS
meminta pertanggung-jawaban Presiden atas peristiwa berdarah G30S.
Menanggapi itu Bung Karno menolak, sebab menurut Bung Karno, berdasarkan
UUD 1945 yang harus dipertanggung-jawabkan mandataris MPRS hanya
persoalan yang ada dalam GBHN. Sedangkan peristiwa G30S ada di luar GBHN
yang berarti Presiden tidak dapat dimintai pertanggung-jawaban. Sejak
itu Bung Karno (secara formal) dilarang mengeluarkan ketetapan-ketetapan
atau peraturan. Secara non-formal Bung Karno sudah ditahan di Istana
Bogor sejak 2 Oktober 1965. AD yang diprakarsai oleh Soeharto dan
didukung oleh Nasution menyokong keputusan Soeharto untuk kembali ke UUD
1945 secara murni dan konsekuen. Saat itu pula Soeharto memerintahkan
Ketua MPRS untuk meninjau kembali semua ketetapan MPRS yang dibuat
antara tahun 1960 hingga 1963.
Dalam Sidang Kabinet pada bulan Juni 1966 Bung Karno masih
boleh hadir dalam kapasitas tetap sebagai Presiden RI. Namun dalam
sidang itu Bung Karno diharuskan oleh Soeharto agar bicara yang intinya
mengutuk G30S dan harus mengakui bahwa Bung Karno terlibat di dalamnya.
Juga harus membenarkan pembantaian massal PKI dan antek-anteknya. Di
luar dugaan, ternyata Bung Karno sudah menyiapkan pidato yang diberi
judul Nawaksara. Inti pidato tersebut sama sekali menyimpang dari yang
diperintahkan oleh Soeharto. Pidato Bung Karno itu intinya juga tidak
mengandung penyesalan akibat proses pengambil-alihan kekuasaan. Tetapi
pidato ini ditentang oleh para opsir dan para ulama.
Pada tanggal 17 maret 1967 MPRS menyelenggarakan Sidang
Istimewa. Intinya: dikeluarkan Tap MPRS yang menurunkan Presiden
Soekarno dan secara resmi menyerahkan kepemimpinan nasional kepada
Soeharto sebagai Pejabat Presiden sampai terpilih presiden oleh MPRS
hasil pemilu yang akan datang. Dengan begitu Soeharto sudah benar-benar
menggantikan Soekarno. Saat itulah Soeharto menegaskan bahwa tentara
memiliki peran sosial politik yang tidak terbatas (kelak hal ini
diterjemahkan menjadi Dwifungsi ABRI) DALAM NEGARA. Saat itu pula
ditetapkan bahwa Pancasila sebagai azas tunggal negara. Soeharto saat
itu mulai menyusun kekuatan agar kekuasaan berada di satu tangan: tangan
dia sendiri. Sebaliknya, terhadap Presiden Soekarno, MPRS mengeluarkan
keputusan sebagai berikut:
– Presiden Soekarno dinilai tidak dapat memenuhi tanggung-jawab
konstitusionalnya – Presiden Soekarno dinilai tidak dapat menjalankan
Haluan Negara. Karena itu MPRS memutuskan melarang Presiden Soekarno
melakukan kegiatan politik sejak saat itu sampai dengan Pemilu yang akan
datang
– Juga menarik mandat MPRS terhadap presiden yang diatur
dalam UUD 1945 dan mengangkat pengemban MPRS nr. 9 sebagai Pejabat
Sementara (Pjs) Presiden Soeharto hingga terpilihnya presiden hasil
Pemilu.
– Pjs Presiden tunduk dan bertanggung-jawab terhadap MPRS. –
Persoalan hukum yang menyangkut Presiden Soekarno ditentukan sesuai
hukum yang berlaku dan pelaksanaannya diserahkan kepada Pjs Presiden.
Secara garis besar tindakan Soeharto sejak sebelum G30S sampai
pembubaran kabinet bentukan Bung Karno disebut pegamat asing sebagai
creeping coup (kudeta merangkak). Proses kudetanya tidak langsung
menghantam dan musuhnya jatuh, melainkan kudeta yang dilakukan secara
mengendap-endap. Kata mereka itu kudeta khas Indonesia. Coba saja,
setelah kekuasaan beralih Bung Karno masih berstatus sebagai Presiden
RI. Saat itu – bahkan sampai sekarang – saya melihat proses peralihan
kekuasaan tersebut sangat unik. Selain unik, juga sangat membahayakan
Soeharto sendiri seandainya perkembangan situasi mengalami pembalikan.
Tetapi rupanya Soeharto sudah memperhitungkan semua dengan sangat
matang. Terbukti, sama sekali tidak ada bahaya. Malah, setelah itu
Soeharto memperkukuh kekuasaannya dengan memreteli semua keputusan MPRS
yang dirasa memberi kewibawaan kepada Bung Karno. Sebenarnya kudeta
merangkak bukan pilihan Soeharto. Jika prosesnya bergerak secara
merangkak, itu karena terpaksa. Soeharto tidak bisa begitu saja tampil
ke puncak pimpinan nasional. Ia harus melewati para jenderal senior dan
berhadapan dengan Bung Karno yang saat itu begitu kuat.
AKHIR HAYAT UNTUNG
Setelah ditangkap saya langsung ditahan. Saya diadili di
Mahkamah Militer Luar Biasa dengan tuduhan subversi dan dijatuhi hukuman
mati. Jalur hukum di atas vonis pengadilan – seperti naik banding dan
kasasi – sengaja ditutup sehingga mau tidak mau saya harus menerima
vonis hukuman mati itu. Jelas saya sangat terpukul pada saat itu. Dari
posisi orang nomor dua di Republik ini, saya mendadak sontak diadili
sebagai penjahat dan dihukum mati. Saya menjalani hukuman awal di
Penjara Cimahi Bandung. Di sana berkumpul orang- orang yang senasib
dengan saya (dituduh sebagai penjahat yang terlibat G30S). Di antaranya
adalah Letkol Untung yang memang komandan G30S. Selama beberapa bulan
kami berkumpul di penjara walaupun berbeda ruangan. Saya dan Untung
sudah sama-sama divonis hukuman mati. Baik saya maupun Untung tidak
diberi hak untuk menempuh jalur hukum yang lebih tinggi yakni naik
banding, apalagi kasasi.
Sampai suatu hari di akhir 1966 Untung dijemput dari selnya
oleh beberapa sipir. Diberitahukan bahwa Untung akan dieksekusi. Itulah
saat-saat terakhir Untung menjalani hidupnya. Saya dan Untung yang sudah
akrab selama berada dalam satu penjara benar-benar terhanyut dalam
suasana haru. Saya bukan hanya terharu tetapi juga bingung, sedih,
bahkan panik. Sebab Ahmad Durmawel (oditur militer yang mengadili saya)
saat itu memberitahukan bahwa saya akan mendapat giliran (dieksekusi)
empat hari kemudian. Saya ingat saat itu hari Selasa. Berarti saya akan
dieksekusi pada hari Sabtu.
Sebelum Untung dijemput untuk dibawa keluar penjara, saya
sempat menemui Untung. Saat itu ia sudah ditanya tentang permintaan
terakhir, seperti lazimnya orang yang akan dieksekusi. Mungkin karena
Untung sedang panik, ia tidak minta apa-apa. Untung juga sudah tahu
bahwa saya akan dieksekusi hari Sabtu. Maka pertemuan saya dan Untung
benar-benar luar biasa. Kami memang hanya berhadap-hadapan dengan
pakaian seragam narapidana, namun hati kami tidak karuan. Untung segera
akan ditembak, sedangkan saya empat hari lagi.
Saat itu ada kalimat perpisahan Untung yang saya ingat hingga
sekarang. Bahkan saya ingat suasana hening saat Untung menyampaikan kata
perpisahannya pada saya. Para sipir dan tentara berwajah angker yang
selalu siaga menjaga Untung, mengawasi kami dari jarak agak jauh. Mereka
seperti maklum dan memberi kesempatan terakhir bagi Untung untuk
berpesan kepada saya. Untung mengatakan demikian: Pak Ban, selamat
tinggal. Jangan sedih. Empat hari lagi kita ketemu lagi di sana katanya
sambil menunjuk ke atas. Untung mengucapkan kata perpisahan dengan suara
bergetar. Matanya kelihatan berkaca-kaca. Tentara yang gagah berani itu
tidak menangis, tetapi saya tahu ia dalam kondisi sangat panik. Ia
benar-benar tidak menyangka bakal dikhianati oleh Soeharto.
Jika menengok hari-hari sebelumnya, Untung begitu sering
mengatakan kepada saya bahwa tidak mungkin Soeharto akan mengkhianati
dia. Sebab dia adalah sahabat Soeharto dan ia mengatakan bahwa Soeharto
mengetahui rencana G30S, bahkan memberi bantuan pasukan. Karena itu dia
sangat yakin bahwa dia tidak akan dikhianati oleh Soeharto. Tetapi toh
kenyataannya berakhir demikian. Menanggapi perkataan Untung, saya tidak
bisa bicara apa-apa. Saya hanya mengangguk-angguk. Para sipir dan
tentara yang menjaga kami menyaksikan semua adegan singkat tapi
mengharukan ini.
Menjelang senja, Untung dengan pengawalan ekstra ketat berjalan
menuju pintu gerbang untuk meninggalkan Penjara Cimahi. Saya mengamati
keberangkatan Untung dari penjara. Ia berjalan tegap. Mungkin ia segera
bisa menguasai perasaannya yang begitu gundah. Tetapi mungkin pula ia
sudah pasrah kepada takdir Allah bahwa memang sampai di situlah
perjalanan hidupnya. Saya kemudian mendengar bahwa Untung dieksekusi di
sebuah desa di luar kota Bandung. Saya sudah tidak sempat sedih lagi
memikirkan nasib Untung, hidup saya sendiri akan berakhir sebentar lagi.
Bila mengingat hari-hari itu, saya membayangkan Untung kecele (salah
duga) dengan kata perpisahannya kepada saya sesaat sebelum meninggalkan
penjara karena ternyata dia tidak menjumpai saya di alam sana.
Terus terang, setelah Untung dieksekusi, saya benar-benar
gelisah. Manusia mana yang tidak takut jika hari kematiannya sudah
ditentukan. Tetapi – inilah keajaiban – Presiden Amerika Serikat Lyndon
B. Johnson dan Ratu Inggris Elizabeth, di luar sepengetahuan saya,
mengirimkan surat kawat kepada Soeharto. Saya mengetahui ini dari
seorang sumber beberapa hari kemudian. Isi surat dua petinggi negara
adidaya itu – ini juga ajaib – hampir sama.
Intinya berbunyi
demikian: Soebandrio jangan ditembak. Saya tahu, dalam G30S dia tidak
terlibat. Soal, apakah ini merupakan intervensi asing atau bukan, bagi
saya tidak perlu dipikirkan lagi. Sejak dulu pun Indonesia selalu
diintervensi oleh negara lain. Yang penting bagi saya, mereka sudah
membantu saya dalam kondisi sangat panik. Dan ternyata kawat singkat itu
ampuh luar biasa. Akhirnya saya tidak jadi ditembak mati. Tentang
mengapa dua orang pimpinan negara Barat membantu saya, sungguh tidak
saya ketahui. Yang tahu persis hanya mereka berdua. Saya tidak pernah
meminta bantuan mereka. Logikanya, tidak ada waktu bagi saya untuk minta
bantuan kepada orang lain, apalagi pimpinan negara lain. Hitung saja,
saya diberitahu tentang hari eksekusi saya sekitar lima hari sebelumnya.
Selama menunggu, saya hanya panik dan panik.
Lagipula, bagaimana caranya saya minta bantuan kepada mereka?
Saya berada di dalam penjara dan dalam pengawasan ekstra ketat, terutama
pada hari-hari menjelang eksekusi. Namun jangan lupa, saya dulu adalah
Menteri Luar Negeri. Saya akrab dengan mereka berdua. Ketika perundingan
tentang pembebasan Irian Barat, saya banyak melobi pejabat di dua
negara itu. Juga dalam tugas-tugas yang lain. Tetapi bagaimana pun saya
juga tetap tidak tahu bagaimana mereka begitu yakin bahwa saya tidak
terlibat G30S sampai-sampai mereka dengan keputusan yang luar biasa
berani mengirimkan kawat ke Jakarta. Akibat kawat itu pula hukuman saya
diubah dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup.
0 komentar:
Posting Komentar